BREAKING NEWS
← Kembali ke Beranda
Veto Ekologis

Nikel untuk Transisi Energi, Arsenik Menghantui Perempuan Teluk Weda

Oleh Redaksi • 29 September 2026 • 108 Pembaca
Bagikan:
Nikel untuk Transisi Energi, Arsenik Menghantui Perempuan Teluk Weda
Penyampaian Hasil Riset. Oleh Ketua Komunitas Fajaru Maluku Utara, Hasma Nento

KABATA.ID, TERNATE — Di tengah gemerlap ekspansi industri nikel dan ambisi transisi energi, ancaman pencemaran logam berat justru membayangi perempuan yang tinggal di sekitar kawasan industri Teluk Weda, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. 

Tim Peneliti Fajaru Maluku Utara mengonfirmasi adanya paparan logam berat pada perempuan yang tinggal di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan industri nikel dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Captive.

Penelitian tersebut menemukan 85% perempuan yang menjadi responden terdeteksi mengandung arsenik dalam urine, sementara 3 dari 20 perempuan terdeteksi mengandung merkuri berdasarkan pemeriksaan darah.

Temuan ini menjadi perhatian serius karena para responden merupakan perempuan usia subur yang sehari-hari hidup dan beraktivitas di sekitar kawasan industri, dalam paparan Ketua Fajaru Maluku Utara, Hasma Nento. (29/09/2026)

Fajaru Maluku Utara melakukan penelitian mengenai Kesehatan Seksual dan Reproduksi Perempuan di Wilayah Lingkar Industri Teluk Weda. Penelitian dilakukan di empat desa, yakni Woekob, Lelilef Sawai, Lelilef Waibulen, dan Gemaf. Keempat desa tersebut berada pada jarak sekitar 237 meter hingga 1,5 kilometer dari fasilitas industri, dengan populasi gabungan lebih dari 18.000 jiwa.

Penelitian melibatkan 20 perempuan usia subur (18–50 tahun) yang telah tinggal sekurang-kurangnya satu tahun di wilayah penelitian. Pemeriksaan kandungan logam berat dilakukan menggunakan metode Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS) di Laboratorium Klinik Prodia Ternate.

Selain menemukan adanya arsenik dan merkuri pada tubuh responden, Tim Peneliti Fajaru juga menemukan pola yang menunjukkan bahwa semakin dekat pemukiman dengan aktivitas industri, semakin tinggi kadar arsenik yang ditemukan. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Desa Waekob, Kecamatan Weda Tengah.

Temuan tersebut memperkuat kekhawatiran mengenai kondisi lingkungan di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan industri. Tidak hanya menemukan kandungan logam berat, penelitian Fajaru juga mencatat sejumlah keluhan kesehatan yang dialami perempuan. 

Sebanyak 95% responden mengaku mengalami batuk berkepanjangan. Kemudian 80% mengalami gatal-gatal dan ruam pada kulit, sedangkan 60% mengalami gangguan siklus haid atau menstruasi. Keluhan tersebut, menurut tim peneliti, menunjukkan adanya persoalan kesehatan perempuan yang perlu mendapatkan perhatian serius dan pemeriksaan lebih lanjut.

Ketua Fajaru Maluku Utara, Hasma, mengatakan kondisi tersebut tidak dapat dipisahkan dari masifnya aktivitas industri di kawasan Teluk Weda. Menurutnya, persoalan lingkungan dan kesehatan perempuan semakin kompleks seiring bertambahnya aktivitas industri serta luas kawasan industri.

Kondisi tersebut, kata Hasma, diperparah dengan beroperasinya 14 unit PLTU Captive berbahan bakar batu bara dengan total kapasitas terpasang lebih dari 4.540 MW. Kapasitas tersebut terdiri dari enam unit masing-masing 250 MW dan delapan unit masing-masing 380 MW. PLTU Captive tersebut menyuplai kebutuhan listrik untuk puluhan jalur peleburan nikel setiap harinya.

Hasma mengatakan aktivitas PLTU Captive menghasilkan abu terbang dan emisi yang dapat tersebar ke wilayah permukiman, tergantung kondisi dan arah angin. Akibatnya, warga yang tinggal di sekitar kawasan industri harus berhadapan dengan debu dan pencemaran udara dalam kehidupan sehari-hari.

“Semakin bertambah masif aktivitas industri, maka semakin tinggi pula potensi pengrusakan terhadap alam. Jika alam rusak maka kesehatan perempuan pun ikut terganggu, karena perempuan paling banyak berinteraksi dengan air, tanah, dan udara,” kata Hasma.

Menurut Hasma, perempuan di wilayah tersebut memiliki intensitas interaksi yang tinggi dengan lingkungan. Mereka masih beraktivitas di sungai untuk mencuci dan mandi, bahkan mencari kerang air tawar untuk dikonsumsi. Selain sungai, sumur menjadi salah satu sumber air masyarakat. Namun, kondisi sumur warga disebut semakin memprihatinkan karena debit air semakin menyusut, bahkan sebagian sumur telah mengering.

Di sisi lain, debu yang bertebaran di udara dikhawatirkan masuk ke dalam sumur warga. Kondisi tersebut membuat sebagian warga memilih membeli air galon untuk kebutuhan konsumsi.

“Warga berusaha melindungi diri dengan membeli air minum. Tapi bagaimana melindungi udara yang dihirup setiap detik, air yang menyentuh kulit saat mandi, dan ikan yang dimakan setiap hari,” tegas Hasma.

Persoalan tersebut kemudian menjadi ironi di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap nikel sebagai salah satu mineral yang banyak dibicarakan dalam agenda transisi energi.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Maluku Utara, Astuti N Kilwouw, mengatakan nikel menjadi salah satu komoditas yang sangat diminati dalam upaya mencapai target  NZE pada 2060. Menurut Astuti, pemerintah masih menempatkan transisi energi sebagai salah satu strategi untuk mengurangi emisi karbon di atmosfer.

“Nikel merupakan yang paling diminati untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060, karena pemerintah kita masih percaya bahwa untuk mengurangi emisi karbon yang kita hasilkan di lapisan atmosfer adalah dengan melakukan transisi energi,” kata Astuti.

Namun, menurutnya, agenda transisi energi tidak boleh hanya berbicara mengenai pengurangan emisi karbon tanpa melihat dampak terhadap masyarakat dan lingkungan di wilayah produksi mineral.

“Namun persoalannya transisi energi yang katanya berkelanjutan itu, kerap mengabaikan hak-hak masyarakat sipil, maupun perlindungan terhadap ekosistem darat serta laut,” ujarnya.

Astuti mengatakan Maluku Utara merupakan salah satu wilayah dengan cadangan nikel yang besar. Kondisi tersebut membuat kepentingan industri dan investasi semakin banyak diarahkan ke provinsi kepulauan tersebut.

“Kita tahu bahwa Maluku Utara merupakan satu dari dua daerah di dunia penghasil cadangan nikel terbesar, makanya sekarang ini banyak kepentingan pengusaha tertuju ke Maluku Utara,” katanya.

Menurut Astuti, posisi Maluku Utara sebagai wilayah kepulauan dengan karakteristik pesisir dan pulau-pulau kecil membuat ekspansi industri perlu memperhitungkan daya dukung lingkungan.

“Secara geografis, Maluku Utara karakteristiknya adalah wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, kalau itu dibebankan dengan begitu banyak industri pertambangan dalam hal ini nikel maka beban ekologisnya semakin tinggi,” tutup Tuti. (Red)

 

BACA JUGA
BERITA TERBARU