KABATA.ID, TERNATE — Di tengah gemerlap ekspansi industri nikel dan ambisi transisi energi, ancaman pencemaran logam berat justru membayangi perempuan yang tinggal di sekitar kawasan industri Teluk Weda, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Tim Peneliti Fajaru Maluku Utara mengonfirmasi adanya
paparan logam berat pada perempuan yang tinggal di wilayah yang berbatasan langsung
dengan kawasan industri nikel dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Captive.
Penelitian tersebut menemukan 85% perempuan yang menjadi responden terdeteksi mengandung arsenik dalam urine, sementara 3 dari 20 perempuan terdeteksi mengandung merkuri berdasarkan pemeriksaan darah.
Temuan ini menjadi perhatian serius karena para responden merupakan perempuan
usia subur yang sehari-hari hidup dan beraktivitas di sekitar kawasan industri,
dalam paparan Ketua Fajaru Maluku Utara, Hasma Nento. (29/09/2026)
Fajaru Maluku Utara melakukan
penelitian mengenai Kesehatan Seksual dan Reproduksi Perempuan di Wilayah Lingkar
Industri Teluk Weda. Penelitian dilakukan di empat desa, yakni Woekob, Lelilef Sawai,
Lelilef Waibulen, dan Gemaf. Keempat desa tersebut berada pada jarak sekitar 237
meter hingga 1,5 kilometer dari fasilitas industri, dengan populasi gabungan lebih
dari 18.000 jiwa.
Penelitian melibatkan 20
perempuan usia subur (18–50 tahun) yang telah tinggal sekurang-kurangnya satu tahun
di wilayah penelitian. Pemeriksaan kandungan logam berat dilakukan menggunakan metode
Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS) di Laboratorium Klinik Prodia
Ternate.
Selain menemukan adanya
arsenik dan merkuri pada tubuh responden, Tim Peneliti Fajaru juga menemukan pola
yang menunjukkan bahwa semakin dekat pemukiman dengan aktivitas industri, semakin
tinggi kadar arsenik yang ditemukan. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah
Desa Waekob, Kecamatan Weda Tengah.
Temuan tersebut memperkuat kekhawatiran mengenai kondisi lingkungan di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan industri. Tidak hanya menemukan kandungan logam berat, penelitian Fajaru juga mencatat sejumlah keluhan kesehatan yang dialami perempuan.
Sebanyak 95% responden
mengaku mengalami batuk berkepanjangan. Kemudian 80% mengalami gatal-gatal dan ruam
pada kulit, sedangkan 60% mengalami gangguan siklus haid atau menstruasi. Keluhan
tersebut, menurut tim peneliti, menunjukkan adanya persoalan kesehatan perempuan
yang perlu mendapatkan perhatian serius dan pemeriksaan lebih lanjut.
Ketua Fajaru Maluku Utara,
Hasma, mengatakan kondisi tersebut tidak dapat dipisahkan dari masifnya aktivitas
industri di kawasan Teluk Weda. Menurutnya, persoalan lingkungan dan kesehatan perempuan
semakin kompleks seiring bertambahnya aktivitas industri serta luas kawasan industri.
Kondisi tersebut, kata Hasma, diperparah dengan beroperasinya 14 unit PLTU Captive berbahan bakar batu bara dengan total kapasitas terpasang lebih dari 4.540 MW. Kapasitas tersebut terdiri dari enam unit masing-masing 250 MW dan delapan unit masing-masing 380 MW. PLTU Captive tersebut menyuplai kebutuhan listrik untuk puluhan jalur peleburan nikel setiap harinya.
Hasma mengatakan aktivitas
PLTU Captive menghasilkan abu terbang dan emisi yang dapat tersebar ke wilayah permukiman,
tergantung kondisi dan arah angin. Akibatnya, warga yang tinggal di sekitar kawasan
industri harus berhadapan dengan debu dan pencemaran udara dalam kehidupan sehari-hari.
“Semakin bertambah masif
aktivitas industri, maka semakin tinggi pula potensi pengrusakan terhadap alam.
Jika alam rusak maka kesehatan perempuan pun ikut terganggu, karena perempuan paling
banyak berinteraksi dengan air, tanah, dan udara,” kata Hasma.
Menurut Hasma, perempuan
di wilayah tersebut memiliki intensitas interaksi yang tinggi dengan lingkungan.
Mereka masih beraktivitas di sungai untuk mencuci dan mandi, bahkan mencari kerang
air tawar untuk dikonsumsi. Selain sungai, sumur menjadi salah satu sumber air masyarakat.
Namun, kondisi sumur warga disebut semakin memprihatinkan karena debit air semakin
menyusut, bahkan sebagian sumur telah mengering.
Di sisi lain, debu yang
bertebaran di udara dikhawatirkan masuk ke dalam sumur warga. Kondisi tersebut membuat
sebagian warga memilih membeli air galon untuk kebutuhan konsumsi.
“Warga berusaha melindungi
diri dengan membeli air minum. Tapi bagaimana melindungi udara yang dihirup setiap
detik, air yang menyentuh kulit saat mandi, dan ikan yang dimakan setiap hari,”
tegas Hasma.
Persoalan tersebut kemudian
menjadi ironi di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap nikel sebagai salah satu
mineral yang banyak dibicarakan dalam agenda transisi energi.
Direktur Wahana Lingkungan
Hidup Indonesia (WALHI) Maluku Utara, Astuti N Kilwouw, mengatakan nikel menjadi
salah satu komoditas yang sangat diminati dalam upaya mencapai target NZE pada 2060. Menurut Astuti, pemerintah masih menempatkan transisi energi sebagai
salah satu strategi untuk mengurangi emisi karbon di atmosfer.
“Nikel merupakan yang paling
diminati untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060, karena pemerintah kita
masih percaya bahwa untuk mengurangi emisi karbon yang kita hasilkan di lapisan
atmosfer adalah dengan melakukan transisi energi,” kata Astuti.
Namun, menurutnya, agenda
transisi energi tidak boleh hanya berbicara mengenai pengurangan emisi karbon tanpa
melihat dampak terhadap masyarakat dan lingkungan di wilayah produksi mineral.
“Namun persoalannya transisi
energi yang katanya berkelanjutan itu, kerap mengabaikan hak-hak masyarakat sipil,
maupun perlindungan terhadap ekosistem darat serta laut,” ujarnya.
Astuti mengatakan Maluku
Utara merupakan salah satu wilayah dengan cadangan nikel yang besar. Kondisi tersebut
membuat kepentingan industri dan investasi semakin banyak diarahkan ke provinsi
kepulauan tersebut.
“Kita tahu bahwa Maluku
Utara merupakan satu dari dua daerah di dunia penghasil cadangan nikel terbesar,
makanya sekarang ini banyak kepentingan pengusaha tertuju ke Maluku Utara,” katanya.
Menurut Astuti, posisi
Maluku Utara sebagai wilayah kepulauan dengan karakteristik pesisir dan pulau-pulau
kecil membuat ekspansi industri perlu memperhitungkan daya dukung lingkungan.
“Secara geografis, Maluku
Utara karakteristiknya adalah wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, kalau itu dibebankan
dengan begitu banyak industri pertambangan dalam hal ini nikel maka beban ekologisnya
semakin tinggi,” tutup Tuti. (Red)